Minggu, 04 Juli 2010

PEMERIKSAAN GANGGUAN SISTEM PERSYARAFAN

PROSEDUR DIAGNOSTIK YANG LAZIM DILAKUKAN PADA KLIEN DENGAN GANGGUAN SISTEM SYARAF

PENDAHULUAN
Meskipun prosedur dignostik bukan merupakan tugas mandiri perawat, namun perlu dipahami agar dampak yang mungkin terjadi dapar dikurangi atau dihilangka.
Pada bagian ini akan dibahas lima prosedur diagnostik yang lazim dilakukan yaitu :
 Elektro Encephalografi (EEG)
 Computerized Axila Tomografi Scan (CT Scan) Otak
 Lumbal fungsi
 Elektromiografi
 Angiografi
A. Elektro Encephalografi (EEG)
1. Pengertian
Adalah suatu cara untuk merekam aktifitas listrik otak melalui tengkorak yang utuh.
2. Dasar-dasar/prinsip kerja
Dengan elektroda yang ditempelkan pada berbagai daerah tengkorak, potensial permukaan otak direkam. Perekaman ini berlangsung terus-menerus untuk beberapa menit. Tegangan yang tercatat pada kertas yang bergerak berupa gelombang-gelombang. Dengan memasang 16 elektroda pada tengkorak aktivitas seluruh otak dapat direkam dan diselidiki. Tegangan otak sebesar 50 mikrovolt agar dapat direkam harus diperkuat sampai satu juta kali, oleh karena itu aliran listrik dari sumber lain seperti gerakan otot kepala atau generator listrik juga ikut tercatat (atrefak).
Seluruh korteks serebri merupakan medan listrik yang diproduksi pada ujung-ujung dendrit. Tegangan potensial neuron pada setiap waktu berbeda sehingga potensial dendrit juga berubah-ubah. Fluktuasi ini yang tecatat pada kertas EEG.
3. Macam-macam EEG
Seluruh korteks serebri merupakan medan listrik yang mencerminkan adanya gaya listrik yang diproduksikan pada ujung-ujung dendrit, sebagai fenomena potensial aksi neuron-neuron yang disalurkan ke dendrit-dendrinya di korteks serebri. Potensial neuron pada setiap waktu berbeda-beda sehingga potensial dendrit pada korteks selalu berubah-ubah juga. Fluktuasi nilah yang tercatat pada kertas EEG. Dari sekian banyak fluaksi, maka dapat dibedakan menurut frukuensinya dan menurut pola gelombangnya.
a. Empat gelombang menutrut frukuensinya :
1) Glb Alfa, bersiklus 8 -13 perdetik
2) Glb Beta, bersiklus lebih dari 13 perdetik
3) Glb Teta, bersiklus 4-7 perdetik
4) Glb Delta, bersiklus kurang dari 4 perdetik
b. Fluktuasi potensial otak menurut pola gelombang
 Glb lama, mucul sebagai gelombang positif dekat lobus oksipitalis terutama jika mata menatap sesuatu dengan penuh perhatian
 Glb tidur, sekelompok gelombang dengan frekuensi 10-15 siklus perdetik yang hilang pada waktu tidur dangkal, berbentuk “spindel”
 Kompleks K, pola gabungan yang terdiri dari satu atau beberapa gelombang lambat terbaur dengan gelombang-gelombang berfrekuensi cepat, timbul karena ada rangsangan sewaktu tidur dangkal.
 Gelombang verteks, pola gelombang berbentuk jarum, bila teral simetrik di daerah para sagital, antara daerah pre dan post sentral, sering muncul bersama kompleks K pada waktu tidur dangkal
Untuk memberi gambaran yang lebih jelas dan dapat membedakan gelombang yang fisiologis dan patologis, maka berikut ini akan diberikan gambaran gelombang pathologis
Terdapat lima gelombang pathologis, yaitu :
1) Gelombang runcing (Spike) yaitu gelombang yang runcing dan berlalu cepat (kurang dari 60 milidetik) sering ia muncul secara polifasik, yaitu dengan defleksi ke atas kebawah secara berselinagan.
2) Gelombang tajam (sharp wave) yaitu gelombang yang meruncing tetapi berlalu lebih lama dari 60 mili detik. Juga gelombang tajam timbul secara polifasik.
3) Gelombang runcing (spike wave) ialah kompleks yang terdiri dari gelombang runcing yang langsung disusul oleh gelombang lambat. Kompleks tersebut muncul dengan frekuensi 3 spd secara teratur, sinkron bilateral dan hilang secara tiba-tiba.
4) Gelombang runcing multiple ialah ledakan dari sejumlah gelombang runcing yang bangkit selaki atau berkali-kali dan biasanya disusul oleh gelombang lambat.
5) Hypsarithmia ialah kompleks yang terdiri dari gelombang lambat yang bervoltase tinggi dan iramanya tidak teratur diman berbaur gelombang runcing dan tajam.
4. Indikasi Pemasangan
a) Penderita dicurigai atau dengan epilepsi
b) Membedakan kelainan otak organik
c) Mengidentifikasi infark pembuluh darah atau adanya lesi (Tumor, hematom, abses)
d) Diagnosa retardasi mental atau over dosis obat
e) Menentukan kematian jaringan otak
5. Pemnatalaksanaan
a. Persiapan pasien
I. Penyuuhsn Kesehatan
 Penderita diberitahu hal-hal yang akan dilakukan. EEG akan dikerjakan di ruangan yana aman (Laboratory diagnostic) oleh tekhnisian EEG. Di dalam ruang penderita akan dipasang elektroda sebanyak 16-24 denagn pasta. Elektroda yang kecil tersebut akan dihubungkan dengan mesin EEG. Tunjukan melalui gambar atau video casste bila memungkinkan.
 Menganjurkan kepada pasien untuk membebaskan rasa gelisa selam 45-60 menit, pemasangan alat bukan merupakan alat yang berbahaya.
 Melakukan pendekatan kepada pasien untuk mengurangi kemungkinan terjadinya stres, kecemasan atau gemetara akibat pemasangan elektroda.
 Menjelaskan kepada pasien bahwa pada waktu pemeriksaan harus dalam keadaan relaksasi sempurna, duduk atau tiduran dengan tanpa getaran sedikitpun sehingga mendapatkan hasil yang baik.
 Anjurkan pasien untuk mengikuti perintah petugas selama prosedur, antara lain :
 Hyperventilasi selama 3-5 menit
 Usahakan untuk tetap dapat menutup mata
II. Fisik
 Obat-obatan seperti depresan susunan saraf pusat (Alkohol atau tranqualizer) atau stimulan tidak diberikan selama 24 jam sebelum pemeriksaan dilakukan, karena akan memberikan pengaruh terhadap aktivitas listrik otak. Dokter akan memberikan instruksi untuk pemberian anti konvulsi bila perlu 24-48 jam sebelum tindkan.
 Cairan yang mengandung cefein seperti copi, coklat dan teh tidak diberikan selama sebelum tindakan dilakukan.
 Rambut harus bersih, bebas dari spray,minyak,lotion dan hair fastener.
 Pasien harus makan pagi sebelum dilakukan pemeriksaan, karena hypoglikemia menyebabkan ketidak normalan potensial listrik.
b. Pelaksanaan
1. Posis pasien berbaring, ciptakan suasana sedemikian rupa sehingga nyaman bagi pasien.
2. Petugas EEG menempelkan 16-24 elektroda pada lokasi yang spesifik pada kulit kepala serta menghubungukannya melalui kawat peghubung ke mesin/alat EEG.
3. Pencetakan garis dasar (Gambar dasar) dihasilkan mengikuti 3 urutan pemeriksaan yaitu hyperventilasi, stimulasi “photic” dan tidur.
Hyperventilasi :
Pasien dianjurkan untuk melakukan hyperventilasi dengan cara mengambil nafas 30-40 nafas melalui mulut setiap menitnya selama 3-5 menit. Perlu diingat kenaikan pH serung (kira-kira 7,8) akan menaikan rangsangan neuron dan akan menyebabkan serangan aktifitas pada pasien epilepsi.
Photic Stimulasi :
Cahaya yang silau difokuskan ke pasien diman pasien di anjurkan untuk menutup matanya. Stimulasi ini akan menyebabkan aktivitas serangan bagi pasien yang mempunyai kecenderungan mendapat serangan.
Tidur :
Pasien dianjurkan untuk tidur. Jika pasien tidak bida tidur daat diberikan hipnotik yang bekerjanya cepat. Hasil perekaman dari aktivitas listrik tersebut diinterprestasikan oleh neurologi.
c. Setelah Tindakan
 Bersihkan dan cuci rambut pasien
 Ciptakan lingkungan yang tenang sehingga pasien dapat beristirahat dengan tenang
 Berikan posisi tidur yang baik dan perhatikan pernafasan pasien teruama yang menggunakan obat hypnotik.
 Observasi aktivitas/kejang bagi pasien yang cenderung untuk mendapatkan serangan kejang.
B. Computerized Axila Tomografi (CT Scan)
CT Scan adalah suatu prosedur yang digunakan untuk mendapatkan gambaran dari berbagai sudut kecil dari tulang tengkorak dan otak.

Pemeriksaan ini dimaksudkan utuk memperjelas adanya dugaan yang kuat antara suatu kelainan, yaitu :
 Gambaran lesi dari tumor, hematoma dan abses.
 Perubaan vaskuler : malformasi, naik turunnya vaskularisasi dan infark.
 Brain atrofi.
 Hydrocephalus
 Inflamasi
Berat badan klien merupakan suatu hal yang harus dipertimbangkan. Berat badan klien yang dapat dilakukan pemeriksaan CT Scan adalah klien dengan berat badan di bawah 145 kg, hai ini dipertimbangkan dengan tingkat kekuatan scanner. Sebelum klien dilakukan pemeriksaan CT San klien harus dilakukan tes apakah klien mempunyai kesanggupan untuk tingggal diam tanpa mengadakan perubahan selama 20-45 menit, karena hali ini berhubungan dengan lama pemeriksaan yang dibutuhkan.
Klien harus dilakukan pengkajian untuk menentukan pasien bebas dari alergi iodene, sebab klien yang akan dilakukan pemeriksaan CT Scan disuntik dengan zat kntras berupa iodine based contras material sebanyak 30 ml. Bila klien ada riwayat alergi atau dalam pemeriksaan ditemukan adanya alergi maka pemberian zat kontras iodene harus distop pemberiannya. Karena eliminasi zat kontras sudah harus terjadi dalam 24 jam, maka ginjal klien harus keadaan normal.
a. Prinsip kerja
Flim yag mnerima proyeksi sinar diganti dengan alat detektor yang dapat mencatat semua sinar secara berdipensiasi. Pencatatan ini dilakukan dengan mengkoordinasikan tiga pesawat detektor, dua di antaranya menerima sinar yang telah menembus tubuh dan yang satunya berfungsi sebagai detekotor aferen yang mengukur intensitas sinar rontgen yang telah menembus tubuh dan penyinaran dilkukan menurut proteksi dari tiga titik, menurut posisi jam 12, 10 dan jam 02 dengan memakai waktu 4,5 menit.
b. Penatalaksanaan
1) Persiapan pasien
 Pasien harus diberitahu sebaiknya dengan keluarga. Pasien diberi gambaran tentang alat yang akan digunakan. Bila perlu berikan gambaran dengan mengunakan kaset video atau poster, hal ini dimaksudkan untuk memberikan pengrtian pada pasien dengan demikian mengurangi stress sebelum waktu prosedur dilakukan. Test awal yang dilakukan meliputi :
 Kekuatan untuk diam ditempat (dimeja scanner) selama 45 menit.

 Melakukan pernafasan dengan aba-aba (untuk keperluan bila ada permintaan untuk melakukannya) saat dilakukan pemeriksaan.
 Mengikuti aturan untuk memudahkan injeksi zat kontras.
Penjelasan kepada klien bahwa setelah dikakukan injeksi zat kontras maka wajah akan nampak merah dan terasa agak panas pada seluruh badan , dan hal ini merupakan hal yang normal reksi dari obat tersebut. Perhatikan keadaan klinis klien apakah pasien mengalami alergi terhadap iodene. Apa bila pasien merasakan adanya rasa sakit berikan anlgetic dan bila pasien merasa cemas dapat di berikan minor transqualizer. Bersihkan rambut pasien dari jelly atau obat-obatan. Rambut tidak boleh dikelabang dan tidak memakai wig.
c. Prosedur
1. Posisi telentang dengan tangan terkendali.
2. Meja elektronik masuk kedalam alat scanner
3. Dilakukan pemantauan melalui komputer dan pengambilan gambar dari beberapa sudut yang dicurigai adanya kelainan.
4. Selama prosedur berlangsung pasien harus diam absolut selama 2-45 menit.
5. Pengambila gambar dilakukan dari berbagai posisi dengan pengaturan komputer.
6. Selam prosedur berlangsung parawat harus menemani pasien dari luar dengan meakai protektif lead approan.
7. Sesudah pengambilan gambar pasien dirapikan.
d. Hal-hal yang perlu diperhatikan
1. Observasi keadaan alergi terhadap zat kontras yang disuntikan. Bila terjadi lergi dapat diberikan benadry 50 mg.
2. Mobilisasi secepatnya karena pasien mungkin kelelahan selama prosedur berlangsung.
3. Ukur intake dan out put. Hal ini merupakan tinda lanjut setelah pemberian zat kontras yang eliminasinya selama 24 jam. Oliguri merupakan gejala ganguan fungsi ginjal, memerlukan koreksi yang cepat oleh seorang perawat dan dokter.
C. Lumbal fungsi
 Pengetrtian
Adalah suatu cara pengambilan cairan cerebrospinal melalui fungsi pada daerah lumbal.
 Tujuan
Bertujuan mengambil cairan cerebrospinal untuk kepentingan pemeriksaan/ diagnostik maupun kepentingan therapi.
 Indikasi
a. Untuk Diagnostik
 Kecurigaan meningitis
 Kecurigaan perdarahan sub arachnoid
 Pemberian media kontras pada pemeriksaan myelografi
 Evaluasi hasil pengobatan
b. Untuk Therapi
Pemberian obat antineoplastik atau anti mikroba intra tekal.
Pemberian anesthesi spinal.
Mengurangi atau menurunkan tekanan CSF
 Persiapan
Terdiri dari persiapan pasien dan persiapan alat.
 Persiapan Pasien
 Memberi penyuluhan kepada pasien dan keluarga tentang lumbal fungsi meliputi tujuan, prosedur, posisi, lama tindakan, sensasi-sensasi yang akan dialami dan hal-hal yang mungkin terjadi berikut upaya yang diperlukan untuk mengurangi hal-hal tersebut.
 Meminta izin dari pasien/kelurga dengan menandatangani formulir kesediaan dilakukan tindakan lumbal fungsi.
 Meyakinkan klien tentang tindakan yang akan dilakukan.
 Persiapan Alat
 Bak steril berisi jarum lumbal, spuit dan jarum, arung tangan, kassa dan lidi kapas, botol kecil (Bila akan dilakukan pemeriksaan bakteriologis), dan duk bolong.
 Tabung reaksi tiga buah
 Bengkok
 Pengalas
 Desinfektan (Jodium dan Alkohol) pada tempatnya
 Plester dan guntig
 Manometer (Bila akan dilakukan pengukuran pengukuran tekanan)
 Lidokain/xylocain
 Masker, gaun, tutup kepala
 Prosedur Pelaksanaan
 Posisi psien lateral recumbent dengan bagian punggung dipinggir tempat tidur. Lutut pada posisi pleksi menempel pada abdomen, leher fleksi ke depan dagunya menempel pada dada (posisi kne chest)
 Pilih lokasi fungsi. Tiap celah interspinosus vetebral dibawah L2 dapat digunakan pada orang dewasa, meskipun di anjurkan L4-L5 atau L5-S1 (Krista iliaka berada di bidang prosesus spinosus L4). Beri tanda pada celah interospinosus yang telah di tentukan.
 Dokter mengenakan masker, tutp kepala, pakai sarung tangan dan gaun steril.
 Desinfeksi kulit dengan larutan desinfektans dan bentuk lapangan steril dengan duk penutup.
 Anasthesi kulit dengan lidokain atau xylokain. Infiltrasi jaringan lebih dalam hingga ligamen longitudinal dan periosteum.
 Tusukan jarum spinal dengan stilet di dalamnya ke dalam jaringan subkutis. Jarum harus memasuki rongga interspinosus tegak lurus terhadap aksis panjang vetebra.
 Tusukan jarum kedalam rongga sub arachnoid dengan perlahan-lahan, sampai terasa “lepas”, ini pertanda ligamentum flavum telah tembus. Lepaskan stilet unutuk memeriksa aliran cairan cerebrospinal. Bila tidak ada cairan cerebrospinal putar jarumnya karena ujung jarum mungkin tersumbat. Bila cairan tetap tidak keluar, masukan lagi stiletnya dan tusukan jarum lebih dalam. Cabut stiletnya pada interval sekitar 2 mm dan periksa untuk cairan cerebrospinal. Ulangi cara ini sampai kelur cairan.
 Bila akan mengetahui tekanan cairan cerebrospinal, hubungkan jarum lumbal dengan manometer pemantau tekanan. Normalnya 60-180 mmHg dengan posisi pasien berbaring lateral rectumbent. Sebelum mengukur tekanan, tungkai dan kepala pasien harus diluruskan. Bantu pasien meluruskan kakinya perlahan-lahan.
 Anjurkan pasien untuk bernafas secara normal,hindarkan mengedan.
 Untuk mengetahiu apakah rongga sub arachnoid tersumbat atau tidak, petugas dapat melakukan test queckenstedt dengan cara mengoklusi salah satu vena jugularis selama 10 detik. Bila terdapat obstruksi medula spinalis maka tekanan tersebut tidak naik tetapi apabila tidak terdapat obstruksi pada medula spinalis maka setelah 10 menit vena jugularis ditekan, tekanan tersebut akan naik dan turun dalam waktu 30 detik.
 Tampung cairan cerebrospinal untuk pemeriksan. Masukan cairan tersebut kedalam 3 tabung steril dan yang sudah berisi reagen, setiap tabung diisi 1 ml cairan cerebrospinal. Cairan ini digunakan untuk pemeriksaan hitung jenis dan hitung sel, biakan dan pewanaan garam,protein dan glukosa. Untuk pemeriksaan none-apelt prinsipnya adal globulin mengendap dalam waktu 0.5 jam pada larutan asam sulfat. Cara pemeriksaannya adalah kedalam tabung reaksi masukan reagen 0,7 ml dengan menggunakan pipet, kemudian masukan cairan cerebrospinal 0,5 ml. Diamkan selama 2-3 menit perhatikan apakah terbentuk endapan putih. Cara penilaiannya adalah sbb :
(-) Cincin putih tidak di jumpai
(+) Cincin putih sangat tipis dilihat dengan latar belakang hitam dan bila dikocok tetap putih.
(++) Cincin putih sangat jelas dan bila di kocok cairan menjadi oplecement (berkabut)
(+++) Cincin putih jelas dan bila di kocok cairan menjadi keruh.
(++++) Cincin putih sangat jelas bila dikocok cairn menjadi keruh.
Untuk test pandi bertujuan untuk mengetahui apakah ada peningkatan globulin dan albumin. Prinsipnya adalah protein mengendap pada larutan jenuh fenol dalam air. Caranya adalah isilah tabung gelas arloji dengan 1 cc cairan reagen pandi kemudian teteskan 1 tetes cairan cerebrospinal, perhatikan reaksi yang terjadi apakah ada kekeruhan.
 Bila lumbal fungsi digunakan untuk mengeluarkan cairan liqoar pada pasien dengan hydrocephalus berat maka maksimal cairan di keluarkan adalah 100 cc.
 Setelah semua tindakan selesai, manometer dilepaskan masukan kembali stilet jarum lumbal kemudian lepaskan jarumnya pasang balutan pada bekas tusukan.
 Setelah Prosedur
a) Klien tidur terlentang tanpa bantal selama 2-4 jam.
b) Observasi tempat fungsi terhadap kemungkinan pengeluaran cairan cerebrospinal
c) Bila timbul sakit kepala, lakukan kompres es pada kepala, anjurkan tekhnik relaksasi, bila perlu pemberian analgetik dan tidur sampai sakit kepala hilang.
 Komplikasi
a. Haerniasi tonsiler
b. Meningitis dan empiema epidural atau sub dural
c. Sakit pinggang
d. Infeksi
e. Kista epidermoid intraspinal
f. Kerusakan diskus intervetebralis





D. Elektromyografi (EMG)
1. Pengertian
Adalah suatu cara yang dilakukan untuk mengukur dan mancatat aliran listrik yang di timbulkan oleh otot-otot skeletal. Dalam keadaan istirahat otot tidak melepaskan listrik tetapi bila otot berkontraksi secara volunter potensial aksi dapat di rekam.
2. Tujuan
a) Membantu membedakan antara ganguan otot primer seperti distrofi otot dan gangguan sekunder.
b) Membantu menentukan penyakit degeneratif saraf sentral.
c) Membantu mendiagnosa gangguan neuromuskuler seperti myestenia gravis.
3. Penatalaksanaan
a. Persiapan pasien
 Menginformasikan kepada pasien seluruh pemeriksaan prosedur ini akan menyebabkan ganguan rasa nyaman sementara, khususnya bila paien sendiri bila di beri rangsangan listrik.
 Pastikan bahwa pasien tidak menggunakan obat-obat depresan atau sedatif 24 jam sebelum prosedur.
 Cegah terjadinya syok listrik.
 Mengurangu rasa takut dan rasa sakit.
b. Prosedur
 Prosedur dapat dilakukan disamping tempat tidur atau di ruangan tindakan khusus
 Elektrode di tempatkan pasa syaraf-syaraf yang akan di periksa.
 Dimulai dengan dosis kecil rangsangan listrik melalui elektrode ke saraf dan otot, apabila konduksi pada syaraf selesai maka otot akan segera berkontraksi.
 Untuk mengetahui poensial otot di gunakan macam-macam jarum elektroda dari nomor 1,3-7,7 cm.
 Pasien mungkin di anjurkan untuk melakukan aktivitas untuk mengukur potensial otot selama kontraksi minimal dan maksimal.
Derajat aktivitas saraf dan otot di rekam pada osiloskop dan akan memberikan gambaran grafik yang dapat di baca.
 Perawat berusaha memberikan rasa nyaman dan memantau daerah penusukan terhadap kemungkinan terjadinya hematoma.



c. Setelah tindakan
 Berikan kompres es pada daerah hematoma untuk mengurangi rasa nyeri.
 Ciptakan lingkungan yang memudahkan klien untuk beristirahat.
E. Angiografi
Angiografi dilakukan untuk melihat secara langsung sistem pembuluh darah otak. Prosedur ini umumnya dilakukan di bagian radiologi. Zat kontras dimasukan melalui arteri. Biasanya pada arteri carotis dan arteri vertebra, atau mungkin pada arteri brachialis atau arteri femoralis.
Angiografi dapat mendeteksi :
1. Sumbatan pada pembuluh darah serebral pada stroke.
2. Anomali congenetal pembuluh darah.
3. Pergeseran pembuluh darah yang mungkin mengidentifikasikan SOL (Space Occupying Lession)
4. Malformasi vaskuler, seperti pada aneurisme atau angioma.
Persiapan pasien bertujuan untuk menciptakan rasa aman dan nyaman pada diri klien. Persiapan ini meliputi :
 Menjelaskan prosedur pelaksanaan, sensasi yang terjadi (rasa terbakar saat penyuntikan zat kontras yang lama kelamaan akan menghilang)
 Hal yang perlu dilakukan setelah tindakan dilakukan.
 Surat izin tindakan telah di tandatangani pasien/keluarga
Komplikasi yang mungkinterjadi adalah hematom pada daerah suntikan dan keracunan zat kontras. Hematoma dapat dicegah dengan melakukan balut tekan pada daerah suntikan sedangkan alergi zat kontras di cegah dengan pemberian anti alergi sesuai program.
Setelah prosedur, observasi tanda-tanda vital setiap jam sampai kondisi stabil, kompres es dapat di berikan pada daerah suntikan untuk menghilangkan rasa nyeri dan mengurangi/mencegah hematoma,klien tidur terlentang tanpa bantal selama 24 jam, jika penyuntikan dilakukan pada arteri femoralis, tungkai harus tetap lurus selama 6-8 jam, catat dan segera laporkan selama perubahan-perubahan neurologi seelah tindakan angiografi.






F. GCS (Glasgow Coma Scale)
Yaitu skala yang digunakan untuk menilai tingkat kesadaran pasien, (apakah pasien dalam kondisi koma atau tidak) dengan menilai respon pasien terhadap rangsangan yang diberikan.
Respon pasien yang perlu diperhatikan mencakup 3 hal yaitu reaksi membuka mata , bicara dan motorik. Hasil pemeriksaan dinyatakan dalam derajat (score) dengan rentang angka 1 – 6 tergantung responnya.
Eye (respon membuka mata) :
(4) : spontan
(3) : dengan rangsang suara (suruh pasien membuka mata).
(2) : dengan rangsang nyeri (berikan rangsangan nyeri, misalnya menekan kuku jari)
(1) : tidak ada respon
Verbal (respon verbal) :
(5) : orientasi baik
(4) : bingung, berbicara mengacau ( sering bertanya berulang-ulang ) disorientasi tempat dan waktu.
(3) : kata-kata saja (berbicara tidak jelas, tapi kata-kata masih jelas, namun tidak dalam satu kalimat. Misalnya “aduh…, bapak…”)
(2) : suara tanpa arti (mengerang)
(1) : tidak ada respon
Motor (respon motorik) :
(6) : mengikuti perintah
(5) : melokalisir nyeri (menjangkau & menjauhkan stimulus saat diberi rangsang nyeri)
(4) : withdraws (menghindar / menarik extremitas atau tubuh menjauhi stimulus saat diberi rangsang nyeri)
(3) : flexi abnormal (tangan satu atau keduanya posisi kaku diatas dada & kaki extensi saat diberi rangsang nyeri).
(2) : extensi abnormal (tangan satu atau keduanya extensi di sisi tubuh, dengan jari mengepal & kaki extensi saat diberi rangsang nyeri).
(1) : tidak ada respon
Hasil pemeriksaan kesadaran berdasarkan GCS disajikan dalam simbol E…V…M…
Selanutnya nilai-nilai dijumlahkan. Nilai GCS yang tertinggi adalah 15 yaitu E4V5M6 dan terendah adalah 3 yaitu E1V1M1.
Jika dihubungkan dengan kasus trauma kapitis maka didapatkan hasil :
GCS : 14 – 15 = CKR (cidera kepala ringan)
GCS : 9 – 13 = CKS (cidera kepala sedang)
GCS : 3 – 8 = CKB (cidera kepala berat)







DAFTAR PUSTAKA

bared18.wordpress.com/.../pengkajian-sistem-persyarafan
www.scribd.com/.../Persyarafan-Sebagai-Basic-Ilmu-Perawat
hidayat2.wordpress.com/tag/sistem-persyarafan
nursingbegin.com/tag/pengkajian-keperawatan/
Asuhan Keperawatan pada klien dengan ganguan persyarafan. Departemen kesehatan. Jakarta. 1995
Burnsid – MC Glymn, diagnosa fisis. Edisi 17.EGC . jakrta . 1995

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar